Cermin hiasku- I
kau berdiri kaku di depan cermin hias dalam kamarku, kurapikan kemejamu, wajahmu pun masih tertata kaku, dan aku bersikap seolah tak tahu , kupasangkan dasimu, dan kamu pun tersenyum tipis sambil mencium keningku rapi ucapmu pelan sambil mengulas senyuman lalu melihat sekilas ke cerminku tanpa senyum kau melangkah keluar dan aku hanya diam terpaku duduk di pinggir ranjang brsprei pinkku membelakangi langkamu saat pintu kamarku terdengar tertutup rapat lalu deru suara mobilmu melaju keluar dari perkarangan rumahku.
Sejak sms itu terbaca istrimu-smuanya menjadi beku, kau begitu cemas dan ketakutan, takut kehilangan dia, dan lebih takut kehilangan aku begitu ucapmu pilu, dan aku hanya bisa diam menahan nafas dalam, Sembrono hanya itu yang ku ucapkan padamu saat kau mengulas smua musibahmu itu, saat sms dariku terbaca istrimu "say aku telat pulang kamu bisa makan dulu di luar " susunan kata-kata yang selalu mesra tertata, hanya kata-kata - hanya kata-kata di delete pun akan hilang tak berbekas tapi begitu melukai dirinya, sedang aku di sini, aku disini sambil kuhirup nafas dalam sambil meremas bajumu yang habis kau pakai semalam, aku di sini hanya bisa menyentuhmu tak lebih dari itu salahkah aku, aku tidak akan memilikimu tapi hanya membutuhkanmu, dengan lesu kugerakkan kaki menuju cermin hias itu, kupandang kaku tubuhku, ku letakkan tubuh layu ini di kursi dan kupandang lekat wajah sayuku.
Mengulas balik awal jumpa kita, saat pembukaan cabang baru di perusahaanku dan dirimu adalah arshitek yang menangani pembangunan gedungnya, posisiku yang harus banyak berhubungan denganmu dalam perencanaan bangunan, pembelian materi, pewarnaan, membuat kita sering terlibat dalam pembicaraan yang tidak hanya cukup di seleseikan di ruang kerja mu-ruang kerjaku, saat makan siang di luar, saat turun ke lapangan dan saat suatu malam kita duduk berhadapan dalam suatu rumah makan yang tenang setenang saat alur cerita kita membelok halus dari pekerjaan kita, kau urai serat-serat halus cerita kluargamu, istrimu yang manis dan bgitu manja-setia, celoteh sikecil mu yang selalu membuat rindu dirimu, dan rona-warna kluargamu yang membangun semangat dalam memacu produktivitasmu, yang dapat kubaca jelas dalam binar matamu begitu indah menyala saat kau ceritakan semua sampai saat kau berhenti berkata dan "bagaimana denganmu nayla ?"
tersentak kaget aku mendengar ucapmu, "nayla" kueja pelan namaku dalam dada sambil kupandang halus kedua bibirmu yang mengeja namaku tanpa embel-embel yang biasa kau berikan, ibu nayla! lalu pertanyaanmu membawaku sedikit tertegun bisu karena bagaimana denganmu nayla ? iya bagaimana aku ? aku juga tak pernah terpikir untuk memikirkan nayla ini dan aku cuman tersenyum , ya joe ! balasku, kubalas panggilanya tanpa embel-embel pak yang biasa aku gunakan juga , "bginilah aku " sambil kuangkat pelan bahuku.
Dan seolah mengerti mauku ( kumohon jangan kau tanyakan bagaimana lagi tentang ku ) lalu kau ganti arah pembicaraan kita dan sejak malam itu lah tanpa ada perubahan maka hari-hari kita terisi kata-kata hanya sebuah kata-kata dan selalu kata-kata, di sms kau tinggal kata untukku, di chattingan yahoo mesengerku kau berikan kata-katamu , kata-katamu dan kata-kataku di emailku-emailmu, di sobekkan kertas-kertas nota yang ku bawa abis belanja saat mampir ke ruang kerjamu, kata-kata yang berupa, makan siang barengan yuk, tadi bangun jam brapa. eh ada film seru lo, hai aku kemaren dapat rumah makan enak pasti seru deh kalo sama kamu , bangun manis olah raga gii perut kamu dah endut, kata-kata tanpa suara dan tanpa warna.
lalu..............
(smoga bersambung deh esok hari ;) )




0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home